Satu Langit

Move to another side

“Aku takut kamu tak mengerti caraku sampaikan rasa ini. Ajarkan aku tuk dapat ungkapkan rasa”. Dua kalimat dalam lirik lagu Geisha yang merupakan bagian dari soundtrack film “Single” cukup menyentuh para single. Tentang bait expectasi yang menggagalkan ide. Keputus asaan yang diputus sesegera mungkin. Tetapi ada banyak cara untuk meluruskan expectasinya kembali. Ada kekuatan dibalik mimpi-mimpi yang belum terwujud itu. Hidup dalam expectasi seperti berjudi saja, apa yang diharapkan belum tentu terhalalkan.

Aku bermimpi tentang kekasih yang diputus karena kematian. Namun akhirnya aku melihat mereka baik-baik saja kembali bersama lagi dengan balutan wajah yang makin bersinar bahagia. Siapakah mereka yang berusaha meyakinkan bahwa mereka baik-baik saja dan menampik semua kekhawatiranku tentang hal yang terasa masih abu-abu. Seperti melihat mind mapping terbaru yang segera harus diupgrade dan mengikuti yang dikata tak ada abu-abunya. Sepatah terucap malah makin bungkam mulut ini.

Baru-baru ini aku mencari hal baru yang aku rasa sedikit mengasyikan. Merumuskan dari apa yang ada disini dan menuju ketengah lalu ingin ke ujung. Pergi ketempat yang orang lain tak mengenalku sama sekali. Lalu aku menariknya menjadi awal baru, suatu segmen cerita dari yang lama. Menuliskan tentang hal yang tak berkaitan tentang entah pagi ataukah sore. Ternyata bukan masalah waktu, tetapi siapa dan mengapa dipertemukan dalam satu frekuensi alam yang sama. Langit yang dilihat tak mungkin bercahaya sama, tetapi langit itu hanya satu. Satu bagian yang mempunyai sisi yang berbeda. Setiap sisinya punya objek keindahan masing-masing. Tak akan khawatir langit menghilang, tak akan mengerti kapan akan seperti itu.

Pertemuan dengan orang yang dulunya tak pernah bertemu dan membayangkannya pun tidak. Kadang seseorang membutuhkan suasana yang benar-benar baru agar tidak bosan. Malah ada yang menduga bertemu untuk melupakan dan sebagainya. Pertemuan dengan orang baru tentu bukan masalah kebetulan, akan tetapi memang sudah ditakdirkan bertemu. Pertemuan itu entah secara langsung sama-sama terlihat fisiknya bahkan hanya suara ataupun tulisannya. Berbagai macam pertemuan itu membuat pribadi yang aku rasa semakin rumit. Semakin banyak bertemu orang maka semakin banyak copy-copy kehidupan yang entah dipaste secara permanen atau hanya selintas dan langsung didelete. Berbagai copy itu bisa saja mencapai titik plagiatnya. Peniruan yang terlalu berlebihan memang selalu dikata membahayakan. Hilangnya identitas menjadi taruhannya. Beribu copy kehidupan yang tak diedit itu membuat hidup tak lagi original. Tetapi ada 2 opsi penerimaan hasil karya copy paste, memang akan selalu ada penerimaan yang sama-sama kita ketahui. Tingkat pengeditan yang luar biasa dapat memanipulasi hasil copy terbaru bagi yang lainnya juga, ya, tentu bisa terlihat original. Ada usaha ditiap titik karya, memanipulasi atau istilah yang lebih terhormat itu.

Kembali kepada pertemuan yang tak terencana. Kadang seseorang sengaja membuat kekosongan agar dapat diisi dengan air kembali. Terlalu penuhnya volume membuat hal baru tertampung hanya sedikit saja. Makanya ada yang memilih untuk mengosongkan beberapa bagian dari semua volumenya. Kadang kita benar-benar menginginkan keadaan yang baru. Maksudnya adalah membuat seakan benar-benar tak mengetahui apapun, ataupun mengenal siapapun sebelumnya. Kondisi netral kerap diinginkan akan tetapi banyak kisah yang tak bisa sirna begitu saja. Kisah yang kesana kemari akan terus mengikuti dimanapun ia tampil. Perlu suatu kepura-puraan untuk membuang persepsi terbayangi kisah-kisahnya sendiri. Usaha mensugesti diri menjadi seorang yang baru tak akan terjadi bila tak mampu diciptakan sendiri. Karena dimanapun itu memang benar adanya kita adalah hal yang dipersepsikan orang lain juga disamping apa yang benar-benar kita. Bahkan kadang kala kita sampai tak mengenali diri kita sendiri, ya sampai dimanakah kepura-puraan itu dibuat sendiri hingga melupakan dirinya sendiri.

Mengkondisikan sebuah keadaan bisa diartikan sebagai proses pelepasan yang diinginkan untuk memanipulasi apa yang sesungguhnya terjadi dan membuat keadaan menjadi sesuai dengan keinginannya sendiri. Lalu mari kita membuatnya, keluarlah dan sentuh apa yang kau mau. Tentu tak melulu harus keluar sejauhnya baru bisa mengenal hal baru. Ada internet yang tak mengenal jarak dan waktu. Kamu bisa pergi sejauh mungkin tanpa ongkos bila kamu numpang koneksi orang lain. Atau tidaklah perlu jauh pergi ke negeri orang, bangunlah dari tempat tidur dan berjalan kemanapun kau mau, akan tetapi yang dirubah adalah pola pikir. Sedang bila kau benar ingin keluar dari desa bahkan negaramu, kau tak perlu mengubah pola pikir. Hanya cukup tersenyum dengan berkata sesukamu dan tentu saja sopan. Betul sekali jika senyum menjadi formula sederhana untuk menaklukkan dunia. Simple tetapi mengubah penampilan lusuh menjadi lebih rapi. Bisa saja menjadi topeng pikiran jahatmu agar lebih terlihat suci. Semua orang akan menganggapmu orang yang baik tanpa peduli kamu sebusuk apa dan berasal dari ras manapun. Orang baru yang tak mengenal kita sebagian besar berpeluang menjadi orang yang akan menerimamu tanpa pikir sejarah pelanggaranmu. Ya coba saja jika mau.

Saat bertemu orang yang benar-benar baru, kau seperti layaknya mendapatkan kertas putih yang bebas saja mau kau apakan. Bisa saja kau mengepal-ngepal kertas itu menjadi kecil dan lalu kau buang begitu saja. Ataukah kau lipat-lipat menjadi bentuk origami yang indah. Mungkin juga kau menggambar sesosok raut wajah. Ya apapun itu bisa terjadi dari perspektifmu sendiri. Kau dapat menerbangkan keinginanmu menjadi lebih bebas. Selembar kertas yang malah hilang dari genggaman begitu saja, lalu kau mengingatnya kembali dan berada dalam genggamanmu lagi. Ini adalah takdirmu untuk menuangkan perspektifmu agar tidak menjemu menjadi bayangan imaji saja. Semoga kau mengerti mengapa kau melakukan hal yang berbeda dari tiap kertas-kertas yang kau dapatkan di bawah langit yang sama.

Langit menatapmu dan tak mengusikmu. Terserah saja, dia hanya menyaksikan dua sejoli yang berpisah untuk mencinta. Ia melihat dua orang yang saling menjaga hatinya dan pura-pura tidak melihat ada sosok yang akan memperhatikannya. Langit menyaksikan pertemuan orang dari belahan bumi yang berbeda dengan ajaibnya bisa bersua dan memadu cerita lalu menyambungkan kisah kertas-kertas yang pernah digenggamnya. Cerita-cerita yang bertajuk hujan dan mendung di kala siang. Kisah-kisah bunga yang bermekaran di pekarangan rumah seorang kakek tua yang telah lama ditinggalkan mati istrinya. Kicauan-kicauan burung yang berimigrasi untuk menyelamatkan kelangsungan hidupnya. Banyaknya keindahan yang bisa dilihat oleh langit yang tidak kita ketahui apakah hal itu dimengerti betul oleh langit yang hanya diam saja. Di bawah langit percakapanku yang terakhir akan tertangkap udara dan diteruskanyalah hingga sampai kependengar. Aku bahkan tak sadar saat pertama kalinya menatap dan mengerti adalah langit yang luas tinggi dan berlapis. Melindungi kulit-kulit yang tidak mampu menangkal korosifnya energy panas. Entah apakah yang mereka lakukan hingga rela menampung air hingga tak mampu tumpah ke atas. Terlihat dari jauh sana kengelanturan anak muda menangkal bola dengan ubun-ubunya dan menggiringnya melewati hijaunya rumput ditengah lapang. Langit menerka Gelak-gelak tawa menandakan ia tak lagi selembar kertas putih seperti saat kau menemuinya pertama kali. Ia bersikap dan kadang kepura-puraannya lebih dominan.

Di antara langit yang tak akan kutahu dimana ujungnya, yuk menghilang sejenak. Mari mencari seorang yang tak mengenal diri kita sama sekali dan siapkan senyum terbaik dan mulailah berkreasi dengan kertas putih di depanmu. Mari membuat ujung dan memulai kembali dari awal, tak perlu mereset semua file. Hanya perlu mengartikan hari ini masih berlanjut dan ini bukanlah ending dari kisahmu. Lagi-lagi kamu yang akan menentukan hidup hanya dengan pola pikir yang kau edit sesuai apa yang kamu inginkan. Dan lihatlah apa yang kau perbuat untuk melengkapi kisahmu di dunia ini. Jika hal yang lalu begitu mengerikan dan kau tak mampu lagi untuk menoleh kembali. Ingatlah ada hal yang masih layak dilihat dari ini dan kau tak lama lagi akan tersadar saat berada di ujung nanti. Sedari mana saja kau menempuh jarak yang entah benar-benar kau resapi atau tidak. Atau kau menghianati hari dan membohongi hari kala ia mendekat. Tiap kali hari baru mendekat, kau berkata ini sudah berakhir lalu akan segera selesai ceritanya tak menerima cerita sambungan. Lihat siapa yang membuat ia berakhir.

Setibanya pada paragraph ini aku mengingat orang yang berada dalam lindungan penjara, mereka terhalang untuk menghirup bebasnya udara. Kala semua orang bisa memilih, ia tak kuasa untuk sekedar melangkah lebih jauh dari bayangannya. Kuasa aturan jauh lebih keras dari yang terpikirkan oleh otak yang lunak ini. Kebebasan menjadi hal yang sangat perlu disyukuri para insan. Ada banyak hal yang tidak bisa kita pahami mengapa dan sekedar apa saja kita tak mengetahuinya dengan pasti. Apakah kita benar-benar bisa bersyukur atas apa yang  sekarang berada tepat dihadapan kita. Langit memperlihatkan wujudnya saat kita melangkah dan asalkan kita tak mencoba menghalangi diri sendiri olehnya kita bisa melihat awan putihnya. Begitupun kita yang sehari hari melangkah mencoba mengintip langit dan menambahkan imaji-imaji tiap harinya. Tentang seseorang yang ingin menjadi lebih baik dan ia tak ingin hanya sekedar berada di bawah langit mendung yang tiap detik ia bisa mendengar dentuman petir. Ada keinginan untuk berada disaat musim semi dan berlindung di teriknya matahari yang menyuburkan ladang bunga matahari. Ia ingin berganti seperti keniscayaan hari yang berganti saat kita tidur ataupun tidak. Menjadi baru dan harum saat  tersenyum di bawah langitMu.

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer