Jika yang Tersembunyi Manis

To be honest i'm indiffrent

Sesuatu yang selalu ingin bersembunyi entah apakah itu? Ia benar-benar tak ingin ditemukan sekarang ini. Hal yang tak ingin aku singkap dan kupelajari dengan segera. Banyak sekali hal yang mempunyai arti lebih dari satu. Banyak yang membingungkan dan susah untuk diterjemahkan oleh akal manusia. Bagaimana seseorang akan bisa menemukannya adalah masalah takdir tersendiri, bisa juga memang belum waktunya untuk mengetahui rahasiaNya. Sebagaimana apa yang waktu perbuat pada diri kita. Ia membuat seseorang menjadi tambah gemuk atau kurus dengan pengulangan-pengulangan kebiasaan. Soal waktu yang akan menghantarkan manusia pada ujung yang memperlihatkan wujud ruhnya sendiri.

Berbinarnya mata membuat seseorang dikira ia pintar bahkan menarik dari segi penampilan. Segi segi yang berbagai bentuk itu terlihat sangat menggoda karena keunikannya. Ketertarikan yang membuat kita terlihat seperti orang yang membosankan dan terkesan autis tanpa bisa dimengerti orang. Kebanyakan orang autis juga terlihat malas dan sok asik sendiri. Padahal remuk ia berpikir dengan keruwetannya sendiri. Penampilannya yang kurang perfect terlihat saat ia bergaya, tapi siapa tahu dia perfect dalam penilaian dan keinginannya akan satu hal. Pemikiran yang menuntutnya berbeda dan terkesan sangat egois pada dirinya sendiri. Ada yang salah? Silahkan koreksi sendiri, ia sangat confident akan kemampuannya. Ia akan jarang bicara karena ia tahu makna ini dan itu yang akan menghantarkan dia pada konflik atau tidak. Dia bahkan bisa merekayasa hasil akhir dalam pembicaraan. Itu hanya sebagian cara pandang bagi salah seorang kaum perfectionis. Hal yang perfectpun bukan berarti sempurna dalam segala bidang.

Hanya pada pembicaraan di atas saja kita tak tentu arah berpikirnya. Kebanyakan hanya berbicara soal penilaian subyektif saja. Memanglah begitu, lha apalagi kalau bukan subyek yang menilai. Adilkah? Siapa yang bisa menghakiminya. Jujurlah saja! Bahwa kita tak akan pernah tau bagaimana cara menilai orang dengan perspektif terbatas kita. Siapa yang mengira bahwa seorang akan menemukan kepastian di awal. Jika kita percaya ini bukanlah akhir, kita juga harusnya yakin bahwa kita belum mengetahui kebenaran yang hakiki. Itu juga saat kita yakin bahwa ini bukanlah akhir dari kisah perjalanannya.

Sama halnya jika menelisik sejarah yang tertulis rapi bersampul tebal dari seorang yang dianggap ahli. Ini seakan tiada habisnya untuk tidak diragukan para pemikir. Entah keyakinan dalam sebuah tulisan itu seperti didoktrin oleh sampul dan perspektif kekinian. Sejarah yang tidak lain dibuat oleh seorang yang hidup di jaman berbeda dan menjadi benar adanya sampai ke para pembacanya. Suatu yang menarik untuk diketahui, hal yang menolak suatu ketersembunyian. Ya, dengan bangganya sejarah ditulis tanpa mengungkapkan ada tabir-tabir bersemayam didalamnya. Ada baris-baris kalimat yang seolah meyakinakan bahwa tulisan itu benar adanya. Seolah dia memiliki ide sekonvensional orang terdahulu. Ia mengira bisa menyaingi frekuensi intelektual mereka. Dia membayangkan dalam satu radar yang sama agar bisa dengan tepat menyadap semua pikiran pelaku sejarah. Aku mengira juga tidak ada salahnya, hanya saja bila memang tidak ada yang menulisnya entah bagaimana kelanjutan nasib dari semua kisah-kisah terdahulu. Pertanyaan kemudian menyeruak saat tidak ada yang mampu mendokumentasikan fakta sejarah. fakta sejarah yang digadang mampu memberi ilustrasi perilaku mulia dan hina itu disebut haruslah ada.

Tentu ada beda makna antara fakta dan cerita sejarah. Tidak pula memungkiri seorang yang mempunyai modal besarlah yang akan mampu membuat, membuka dan menutup tabir sejarah dengan mudahnya. Pembredelan secara paksa tak terbohongi adanya, apalagi pembakaran pustaka kuno dengan sengaja. Kuasa yang mampu melakukannya adalah pelaku yang memang mempunyai kekuatan lebih bahkan keistimewaan. Yang tak lain adalah seorang pemenang argumentasi sekaligus pemegang kendali isi larik sejarah. Itulah mengapa ironi berpikir ini seolah menumpul. Karena seolah tak sengaja disetir oleh pemikiran yang tersaji di meja makan keluarga. Pergumulan sejarah akan terasa seperti membuka suatu bingkisan kado. Namun pula tidak secara ikhlas jika dibuka gamblang. Kita hanya boleh mengintip. Itupun dari kejauhan. Lebih hebatnya lagi kita tak pernah tahu kalo benda itu asli atau tidak. Seperti halnya ada sesuatu yang harus dibayar terlebih dahulu untuk sekedar melihat ada atau tidaknya suatu benda.

Tentang hal yang tersembunyi, misalkanlah urusan hati. Hati yang tersembunyi di palungnya terdalam.

Aku kadang berpikir juga mengapa ada beberapa hal yang bersembunyi? Apakah ia salah satunya pernah melakukan tindakan yang terlarang? Karena entah siapa yang tahu kenapa dengan sengaja bersembunyi. Disamping itu sesuatu yang tersembunyi bisa saja karena memang belum ada wujudnya. Atau memang tercipta untuk tidak dapat tersingkap.

Tentang persembunyian yang tidak dapat ditebak juga. Sebagian dari mereka mengira jika telah menemukan tempat persembunyian, maka sama saja sudah menemukan trigger dari sumbu utama. Menyusuri dari petunjuk-petunjuk yang terlihat terlebih dahulu. Ketersembunyian yang akan selalu ada. Sementara ia memang seharusnya ada. Bisa saja agar hidup itu tak terlihat terlalu menakutkan ataupun menyedihkan. Pertanyaan yang mengemuka pada saat kesadaran itu mengetuknya. Ketukan keras yang memekakan alam keingintahuan. Andai hanya menyingkirkan tabir, lalu semua yang tersembunyi bisa nampak. Ataukah jika hanya  menyalakan penerang semua bisa ditangkap mata. Nyatanya tidak semudah itu. Fakta yang bisa berupa kata maupun  perasaan itu tak mudah dicicipi indera manusia hina. Nyata ada dan terasa tetapi tingkat kepekaaan menutupi segalanya.

Berhasilkah kau menyibaknya? Di saat usiamu mengoyak raga, kapankah?

Yang bersembunyi itu bisa dalam arti misteri ilahi ataupun bisa dalam arti manusia yang sengaja membuat penutup. Sedangkan dalam artian sengaja menutupi mengandung beberapa makna. Permisalan yang sungguh menyentuh adalah jika ada seseorang yang dengan sengaja menyembunyikan kejutan menyenangkan. Ada juga bila seorang sengaja menutupi dan menahan semua perbuatan tidak baiknya hanya untuk merayu pasangan kekasih. Ada pula orang tua yang menutupi rasa laparnya demi anaknya yang menginginkan kue lebih. Serta seorang dermawan yang sengaja berperan di balik layar. Jika mengingat sekelumit kisah tersebut, hal yang tersembunyi itu serasa indah dan menentramkan.

Namun dalam permisalan yang lain juga berarti Sesuatu yang membuat kita kecewa dan menderaskan air mata yang jatuh. Jika seorang dengan sengaja menutupi rasa sakitnya sendiri dan berharap tak ada yang mengetahui seberapa berat beban yang ia panggul. Kemudian pula ada seseorang dengan sengaja menutupi kebenaran di hadapanmu untuk menerobos peluang. Tentu banyak contohnya, terutama dalam hal menutupi kebenaran dalam arti fitnah dan kebohongan. Dari semua cerita kehidupan itu tergantung pada penerima impuls tadi. Karakter seorang yang berbeda menambah ragam reaksi. Reaksi itulah yang akan membuat kita memang pantas naik derajat ataukah malah seolah naik namun ternyata hanya berputar tak tentu arah. Itulah gunanya sadar diri dari proses refleksi. Sadar dimana sebenarnya keberadaan kita saat ini.

Tentang kisah kekasih yang terputus di seberang jalan. Bertemunya dua hati yang tertaut alunan kerahasiaan ditiap langkahnya. Mereka menikmati segala yang ada pada keduanya. Sepanjang jalan ia menapaki dan membuka satu persatu pintu tertutup itu. Seperti suatu game yang bisa berlanjut jika mengikuti aturan main. Keduanya membuka tiap pintu yang terkunci setelah melewati tantangan permainan. Jika akhirnya ia terpisah, masihkah ia saling menyalahkan? Bahkan semua itu akan menemui ujung kebersamaan. Bertemu dan akan bertemu lagi di suatu jalan. Di pinggiran jalan ia melambaikan tangan satu sama lain. Kemudia kisah berlanjut kembali hingga sampai pada ujung yang berlainan. Jika memang benar ada alur siklik kehidupan.

Hey pernahkah kita melihat sesuatu hal yang seharusnya tak kita lihat? Apakah kita menjumpai pearasaan senang setelahnya? Aku rasa ada kekecewaan didalamnya. Karena dalam benak kita hanya ada keinginan yang harus tercapai, keinginan yang membuat kita senang saja. Jika tidak sesuai keharusan kita, hal itu menjadi sesuatu yang salah dan mengecewakan. Barangkali memang benar jika kita tak harus melihat hal yang sedang tersembunyi itu. Seadainya maut bisa kita lihat dengan jelas, aku juga tak mengira jika kita mau melihat akhir dari nyawa kita. Suatu kerahasiaan yang menorehkan keingintahuan. Seperti kado yang dibungkus cantik. Kita hanya akan tersenyum bila menerima kado. Dan belum tentu kita merasa gembira bila telah membukanya. Tetapi hampir semua manusia mempunyai keingintahuan yang seolah disegerakan.

Jika hal yang sudah terbuka muncul, maka kita harus menerimanya. Sesuatu itu kemudian menjadi bagian dari alur kehidupan kita yang selanjutnya. Entah itu menambah rasa bersyukur kita atau tidak, itu tergantung pada segi penerimaan kita. Padahal segi penerimaan itu tergantung pada seberapa sering kita belajar pada materi sebelumnya. Ada puncak dan lembah yang seolah menjadi gambaran grafik kehidupan. Mungkin benar kita telah berada di puncak. Namun benar juga kita harus turun ke lembah dengan selamat. Ada kado dari tiap trip pendakian. Di lembah kita akan menerima hal baru dan di puncak pula demikian. kemudian benar juga bila kita ingin menetap di lembah ataukah di puncak, itu pilihan kita. Pilihan itu tak lain akan berujung pada siklik kehidupan. Siklik yang membuat orang selalu punya rasa membutuhkan hal baru. Namun hal baru itu hanya dapat digenggam jika kita berpindah ruang dan waktu.

Tidak tahu juga apakah yang tersembunyi itu merupakan hal baru ataukah barang lama. Barang lama itu pernah menjadi bagian sehari kita, namun kita menghalangi kehadiranya hingga tak terlihat lagi. Lalu kita mencarinya kembali untuk menjadi barang yang baru terketemukan. Jika sudah begini, memang terasa rumit juga pada diri kita sendiri. Tidak perlu mencari jauh apa yang tersembunyi itu. Di dalam diri kita sendiri saja ada sebuah rahasia besar yang tak berujung. Rahasia mengapa kita mendapat perasaan senang ataukah hampa sedih. Rahasia yang membuat kita memilih suatu pilihan dengan tepat sesuai persepsi kita. Ada kebingungan yang harusnya kita bisa mengurainya jika telah menggenggam kuncinya. Aku rasa nilai kesadaran untuk merasa itu lebih dari cukup sebagai pengganti kunci utama.

Jika yang terjadi kita hanya makan apa yang dihidangkan tidaklah menjadi hal istimewa. Akan tetapi jika kita tahu juga bagaimana bisa hidangan itu tersedia didepan kita, itulah yang membuat kita rela membayar sebuah hidangan dengan nilai fantastis. Tidak semudah menggoreng telor. Namun bagaimana telur itu dihasilkan oleh ayam yang sehat berisi. Terlebih lagi bila ayam itu adalah ayam yang langka dan indah bulunya dll. Ada beberapa orang bijak yang berhasil membuka jejak kesahajaannya. Ia menemukan ada hitam putih dalam dirinya. Ia memutuskan untuk belajar lebih. Tentang dirinya yang hanya bisa dimengerti dirinya sendiri. Entah sepenuhnya ia memang mengerti atau tidak. Asalkan dia sadar jika dia memiliki hitam putih, maka ia tahu betul harus mengontrolnya. Karena hitam dan putih adalah hal yang berbeda sama sekali. Setidaknya adanya kejelasan bahwa ia tidak mengerti, itu saja sudah sangat bijak.

Saat kita mendengar kata yang tak seharusnya tarucap. Layaknya suatu keikhlasan. jika kata ikhlas terucap pada diri seseorang, perlulah kita pertanyakan kemurniannya. Tentu aku merasa aneh juga pada saat ada yang berucap bahwa seseorang tak menyembunyikan apapun. Benarkah memang tak ada satupun yang luput dari mataku. Justru pernyataan itu sangat mencurigakan. Pada akhirnya aku setuju bila memang ada sesuatu yang hendaknya ditutupi atau disembunyikan, tetapi jujurlah saja bila setiap orang memiliki sisi tersembunyi. Sisi tersembunyi itulahyang akan membuat manusia menjadi lebih terpelajar. Sisi yang akan menjadi pembeda dalam menyikapi sesuatu yang melekat pada jiwa raganya. Sisi itu pulalah yang mengantarkan pada maut ataupun lapangnya umur. Serta menjadi sudut yang mengantarkan eksistensi klausul pertanyaan ‘Ada Apa?’

Semua misteri yang Maha Pencipta perlihatkan, seolah biar kita saling tertaut dan tersenyum manis bila terketemukan kelak. Entah lewat ayat-ayat cintanya yang tertulis rapi di Kitab suci, ataupun alam semesta yang sungguh aku tak mengira berujung apa tidak. Cinta pada Yang Maha Suci itu kita yang mempersepsikanya.

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer