Pembelajaran tentang Penerimaan

Pembelajaran tentang Penerimaan
Hal yang mungkin terlupa adalah belajar tentang menerima. Walaupun ini sangat penting.
Sebuah penerimaan ini menjadi hal yang tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan bersosial. Tidak hanya kesenangan saja dalam hidup, melainkan kesusahan juga perlu diberikan ruang. Jangan hanya siap menerima kesenangan. Dunia mengalami pasang surut. Kita tidak bisa menghindarinya. Maka perlulah belajar menerima semua kenyataan itu. Hey pernahkah kalian disebut tidak sopan ataupun hal yang tidak mengenakkan lainnya untuk didengar? Padahal kalian sudah berusaha menjadi sosok yang waspada dan berperilaku baik. Ya… semua itu hal yang umum. Cara gampangnya, orang bilang kalau diri kita adalah sebagian dari definisi orang lain. Ini yang membuat kita tidak percaya diri dan terkesan hypocrite sendiri. Masalahnya sekarang adalah, bagaimana cara belajar untuk menerimanya?
Pertanyaan mendasar ini simple tapi sulit untuk dipraktekkan. Saya pun tidak menahu cara paling ampuh untuk menerima hal pahit itu. Saya hanya mencoba beberapa hal yang setidaknya telah saya coba sendiri.
Jadi kira-kira, masalah pokoknya adalah menerima. Menerima terkait tentang posisi ada yang memberi dan menerima, entah kedudukan itu disisi lain lebih tinggi ataupun sederajat. Bisa saja untuk semua kasus. Tapi saya lebih yakin ini lebih terkait memposisikan diri kita masing-masing. Saran saya adalah memposisikan diri sebagai seorang yang rendah. Cara berbicara maupun cara berperilaku. Ini cukup efektif menurut saya. Paling tidak ini bisa meminimalisir pembicaraan yang memicu konflik.
Bisa dibayangkan pemicu konflik biasanya terjadi akibat perbedaan pendapat yang kemudian memanas karena lebih ingin menang dalam perdebatan itu. Dengan kata lain 2 pihak ingin beradu posisi tertinggi. apabila kalian bisa merendah sedikit, maka tensi pembicaraan itu juga semakin menurun. Apabila kalian malah meninggikan pendapat kalian, tidak akan habis hingga salah satu ada yang disebut pemenang. ini ilustrasi saja.
Masalah bisa ataukah tidak kita memposisikan diri menjadi rendah itulah yang perlu dilatih. Bagaimana tidak, watak individu kita mempunyai naluri berkompetisi. Bagaimana mengontrolnya juga perlu dasar pemikiran yang harus disadari diri individu tersebut. Pada titik ini kita sangat perlu memahami apa hakikat dari kemauan kita itu.
Bukankah kita menginginkan hidup yang tentram dan damai? apakah salah beralih ke sosok yang menerima cacian demi keegoisan kita untuk damai? masalah kalian disebut sebagai seorang yang rendah dan tidak sukses itu relatif. Relatif, dipihak satu kalian disebut hero, sedangkan disisi lain kalian hanya pecundang. Ini benar-benar hanya masalah subyektif seseorang.
come on, kita sudah belajar banyak tentang mana yang baik dan buruk sejak di taman kanak-kanak. Maka sesungguhnya kita tahu betul, bahwa akan tidak baik jika melabeli orang lain sebagai individu rendah. Ego akan menutupi keilmuan kita tentang moral.
So, belajarlah menerima dengan mempersepsikan diri kita sebagai sosok rendah, jangan marah jika ada yang sengaja menghina kalian. Karena sesungguhnya masalah itu bukan pada diri kalian. Masalah itu ada pada diri orang yang menghina itu. Diri yang secara sadar berusaha ingin meninggikan derajatnya, akan tetapi secara tidak sadar malah menghinakan dirinya sendiri.
Terimalah takdir Tuhan itu dengan ikhlas, dan penghayatan hikmahnya.

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer