Ketentraman di balik Belajar Agama

Can we?

Semenjak kuliah pada umumnya pelajaran agama hanya ada pada satu semester saja yang tidak lebih dari 6 bulan. Padahal kebutuhan tentang improv agama itu sangatlah penting. Sejak Taman kanak-kanak hingga SMA, tiap minggu selalu ada tambahan ilmu agamanya yang sering terupgrade. Ini mengisyaratkan ada hal yang hilang dari tiap minggu jika sudah menjadi mahasiswa.

Padahal mencari ilmu terutama tentang bab keagamaan adalah suatu proses yang tidak boleh terhenti. Berlangsung dari bayi hingga meninggal nanti. Ini dikarenakan sifat manusia yang sering lalai berbuat dosa. Bisa jadi hari ini iman kita tebal, namun esok hari iman kita menipis. Perlu konsistensi agar keimanan kita senantiasa terjaga keislamannya. Mengingat kita tidak akan tahu maut akan menjemput kita. Apakah keislaman kita akan tetap terjaga ataukah malah hilang terenggut keduniaan.

Perlu pengingat. Adalah manusiawi jika kita lalai dan lupa akan sesuatu. Tetapi hendaknya kita selalu bangkit dan mengingat apa fitrah kita yang sesungguhnya. Jadi, mari senantiasa kita menambah keimanan kita. Syukur-syukur kita menjadi orang yang bisa mengingatkan orang lain agar berbuat baik. Tetapi yang terpenting adalah bagaimana diri kita sendiri yang sering lalai ini menjadi pribadi yang lebih baik.

Jangan sampai mata rantai keilmuan agama kita putus sejak jenjang sekolah berakhir. Dan janganlah sombong untuk mengatakan diri kita sudah baik dan iman kita sempurna. Sombong tidak hanya tersirat pada kekayaan saja. Dalam keilmuan ada juga sisi sombongnya juga. Kesombongan dalam hal ilmu tidak ada gunanya sama sekali. Justru akan menutup telinga dan mata kita dari jalanya ilmu yang lebih dalam itu sendiri. Semakin kita sombong, semakin ilmu itu terhenti. Pahamilah unsur dinamisasi keilmuan yang tidak akan pernah sanggup kita telan jumlahnya. Sebagaimana jumlah dan jenis spesies dalam laut yang sungguh mustahil kita cari tahu kalau kita sudah puas di pinggir pantai. Batasan ilmu juga bukan sebatas hamparan pantai itu sendiri. Lebih jauh.. kesegala arah. Yang tidak akan tergapai bila kesombongan masih merajai diri.

Ilmu agama juga, luasnya tidak ada yang mengetahui. Satu meter kita berpijak saja, tidak pernah kita mengerti apa yang sebenarnya ada di belakang ataupun di depan kita. Belajarlah konsisten dengan bangkit dari segala kelalaian. Hingga kita lupa bahwa ajal akan segera datang. Ingatlah akan kekurangan kita yang tidak mungkin kita hindari. Manusia tidaklah sempurna. Kita tercipta untuk saling mengingatkan dan menambah keindahan dalam hidup. Kita belajar menyempurnakan apa yang tidak akan pernah sempurna. Tetapi Allah menjajikan kebaikan pada siapa saja yang berusaha mencapai kebaikan itu.

Berkumpulah dengan orang yang bisa menambah keilmuan diri kita. Berkumpulah di majelis-majelis keilmuan. Datangilah. Ramaikanlah. Jangan sekali-kali mengkritik majelis, tetapi berkacalah dari itu. Berpikir tentang ilmu yang didapat dari kekurangan dan kelemahan manusia. Berpikir dibalik pemikiran itu sendiri. Jangan mudah menilai orang lain. Pahami siatusi dibalik situasi. Jangan cepat marah dan jengkel akan sesuatu. Di baliknya, di sampingnya, belum sempat kita lihat pencapaian yang menunggunya.

Maka perlulah kita mencari guru selain orang tua kita. Pilihlah sosok-sosok yang menjadi teladan inspiratif. Tidak hanya satu, pilihlah sebanyaknya. Luaskan cakrawala pergaulan. Berjalanlah dan baca buku-buku terbaik menurutmu. Inti terpenting adalah percaya atau iman pada Allah. Segala sesuatu di dunia ini adalah jalan yang terbaik. Tidak ada yang sia-sia jika kita terus berpikir positiv pada Allah. Jika itu terasa pahit, bisa jadi ada ilmu baru yang akan mengobati hari-harimu agar lebih sehat.

Pergilah, datangi orang-orang yang membuat keislaman kita terjaga. Teladani sikap teladan mereka. Jika di sekitarmu tidak ada sosok yang menggugah nuranimu agar tumbuh lebih baik, janganlah cepat putus asa. Ada banyak jalan, bagi diri yang selalu berusaha lebih baik. Internet yang mudah diakses menjadi jalan alternative membagi dan mendapatkan ilmu di belahan dunia manapun. Carilah dan manfaatkan internet itu dengan bijak. Kelak kau akan temukan banyak ilmu disana. Namun alangkah tidak sempurna belajar agama, kalau tidak dibarengi dengan membaca dan mentadaburi al Quran dan Hadist. Sumber pokok islam yang menjadi mu’jizat nabi terakhir kita Muhammad SAW ini benar-benar kitab yang tiada tandingnya.

Ada banyak sekali versi tafsir-tafsir al Quran. Paling tidak kamu bisa membaca al Quran tiap hari dan mengkaji bagian tafsir terjemahnya di majelis keilmuan dimana saja itu. Islam selalu mengajarkan perbuatan terpuji dan kasih sayang pada sesama. Ada banyak sekali kisah-kisah inspiratif dan nilai ilmu pengetahuan. Adalah suatu mu’jizat sebuah kitab yang ditulis dari semua hafalan para sahabat nabi yang bersumber dari mulut nabi Muhammad itu sendiri. Kini dan yang akan datang menjadi sangat relevan dengan kasus-kasus masa depan. Sebuah kitab kuno yang telah dijaga keasliannya oleh Allah sendiri. Bahkan bila terjadi kesalahan sedikit semua umat islam akan segera mengerti dimana letak kesalahan cetak ataupun kesalahn cara pengucapan orang. Al Quran telah dihafal oleh sebagian islam, bahkan hingga titik koma ayat dan halaman yang sampai dihafal di luar kepala oleh hafiz al Quran.

Malu lah kita kepada orang yang sudah tua, namun giat dalam pergi ke masjid. Dengan kekuatan yang tersisa di hari tuanya mereka tertatih untuk berjamaah di masjid. Adakalanya mereka mendatangi masjid dengan didampingi cucunya untuk mendengarkan ceramah ustad. Semakin tua semakin kita mengingat kematian itu menjadi suatu keniscayaan yang harus dihapi. Mengumpulkan berbagai pahala ibadah dan keilmuan sebagai bekal penyelamat di akhirat nanti. Hal yang kemudian menjadi idaman umat islam adalah meninggal dalam keadaan islam. Mengucapkan kalimat tauhid  sebagai kata terakhir sebagai penutup perjalanan hidupnya. Saat bayi kita diperdengarkan adzan pertama kali dan menutup kehidupan dengan kalimat agung. Namun kita tak akan pernah tau bagaimana keadaan kita nanti saat ajal menjemput. Cukupkah perbekalan selama ini? Akankah kita nanti meninggal dengan syahdu dan berwajah cerah senyum?

Dimanakah tempat kita berdiri sekarang? Apa yang sedang kita lakukan? Apakah kita terliputi kelalaian untuk menambah ilmu agama? Hendaknya kita berada ditempat yang tepat di saat-saat terakhir kita. Janganlah dunia menutupi matamu. Jangan biarkan silaunya kedunia membuatmu buta. Bukan sinar itu yang kau harapkan. Namun kumpulkan cahaya itu dari tempat-tempat sejuk dalam majelis-majelis yang membuatmu jauh lebih bijak. Meningkatkan keikhlasanmu dalam beragama.

Setiap jalan yang kita tempuh janganlah lupa kalau akan tercatat rapi oleh malaikat yang mengikuti kita di kanan dan kiri. Maka buatlah jalanmu menjadi jalan manfaat. Amalkanlah ilmu dimana saja orang membutuhkanmu. Katakan apa yang perlu dikatakan dengan keilmuanmu. Jangan menjadi serba salah oleh omongan kita sendiri yang mencerminkan tingkat keilmuan kita itu. Cerminkan bahwa semakin berilmu maka semakin ikhlas, bijak dan bermanfaat bagi banyak orang.

Orang yang berilmu selalu terlihat tenang dalam menjalani hidup. Betapa hidupnya terasa tentram dan tanpa masalah. Bisa jadi memang kita tidak mengetahui apa saja hal berat yang telah dilalui oleh orang tersebut. Bisa saja kita beropini hidup seseorang itu ada yang terasa instan dan tanpa masalah. Tetapi ingatlah sejenak bahwa jalan hidup kita berbeda masing-masing individu. Dan seorang yang beriman akan selalu diuji keimanannya lewat pembelajaran yang bisa saja berat. Ujian itu tidak hanya berupa hal yang menistakan dan perih. Namun ada juga ujian lewat hal yang samar. Misalkan diuji lewat kebahagiaan yang melimpah dan kekayaan yang tidak ada habisnya.

Selalu waspada dengan menambah keilmuan kita. Belajar untuk mendengarkan hal yang baik-baik. Berucap yang baik dan bertingkah laku terpuji. Ketika kita sepenuhnya percaya bahwa menyombongkan diri itu tiada berguna. Maka keinginan mencari ilmu juga akan menambah minatnya. Walaupun kita semakin beranjak tua. Bangkitlah dari keterpurukan kebodohan. Islam mengajarkan agar tiap individu cerdas dan berwawasan luas. Bahkan islam menjadi sumber dari kedamaian dunia. Islam itu cerdas, bersih, dan damai.

Pesan saya, jangan memutus keilmuan agama kita. Teruslah mencari dan memperdalam ilmu agama. Datanglah paling tidak seminggu sekali dalam kajian agama ataupun membaca bacaan tentang islam lainnya. Jangan sampai lalai kita semakin parah dan tidak ada yang mampu mengobati kerasnya hati kita. Lalu kemudian kita diliputi oleh nifaq di dalam akal, hati dan jiwa kita. So mari belajar… go ahead

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer