Mendengar Hal paling manis

Hey, pick the call!

Ada yang bisa terdengar namun aku benar-benar tak bisa mengerti  apa maksudnya. Mungkinkah ada yang tertinggal dan terlupakan di masa lalu? Beberapa orang menceritakan tentang kebanggaan negerinya, di lain sisi ada yang memaki dirinya sendiri. Bagaimana menyadari kebodohan itu berteriak sekerasnya. Lantas suaranya semakin terdengar lebih nyaring dari suara biasanya. Namun tak jua kita beranjak dan mengerti. Apalagi memahaminya.

Tentang suatu kecemasan yang ditutupi dengan kesombongannya atas ketidak mengertiannya. Apakah suara kegagalan lebih dominan ataukah imbang diangka yang sama? Aku belum tentu bisa mengkalkulasi seberapa banyak selama ini aku mendengar beragam bunyi yang ada. Jika yang tak sengaja terdengar itu lebih sering muncul, aku juga tak begitu tahu apa saja efek sampingnya.

Tentang bahasa kesedihan di ujung senja sore yang memisahkan cahaya dan kegelapan. Tentang keresahan bagaimana mengungkapkan cinta pada seorang terkasih yang tetap tersimpan rapat itu. Lalu haru biru setelah menonton film misteri yang menggemaskan. Beberapa film mengajarkan sesuatu, beberapa hanya menunjukan fakta sombongnya kenyataan itu terjadi. Sebagiannya memilih untuk menunjukkan fakta yang tak terbahasakan. Tanpa mengulas apa yang dimaksudkan dalam filosofi scenario oleh penulisnya. Kita hanya bisa mengira, karena mereka membuat politisasi bahasa yang terstruktur dengan masifnya. Kemudian kita dengan bangga membayar rupiah demi rupiah menghamba dunia ironi itu.

Jika kita kembali kepada kehidupan sehari-hari, sudah berapa bahasa yang sudah kita kuasai? Bisa jadi kita hanya mampu mengerti satu bahasa saja. Sungguh tidak asik. Jadi, Mari kita berkunjung ke tetangga dan kemudian ke tetangga yang lebih jauh. Sampai suatu saat kita menemukan perbedaan bahasa. Bahasa terasa dinamis saat kita juga bersikap dinamis.

Aku memang tak sepenuhnya mengerti mengapa orang sunda sulit membedakan antara F dan P. Sering tertukar dan itu membuat orang yang tak terbiasa mendengarnya menjadi geli, tak jarang dengan bercanda aku menertawakan dan mengolok untuk menggoda salah satu teman sundaku. Jauh sebelumnya aku menemukan fakta di mata pelajaran bahasa Jepang, bahwa tidak ada huruf L disana. L biasa tergantikan dengaan eksistensi R. Sebaliknya dengan di China. Alhasil seakan aneh jika kita mendengar bagaimana orang yang berbeda suku dari kita berbicara di depan kita.

Sedikit contoh, mengapa kita menjadi asing mendengar hal yang tidak biasa kita dengar. Aku melihatnya sebagai hal yang wajar namun tak banyak yang menyadarinya. Inilah salah satu gunanya shock terapi saat jalan-jalan di tempat asing. Ataupun malah pindah ke suatu tempat untuk beberapa waktu. Ada nilai pelajarannya. Kuping kita menjadi lebih pintar, lebih peka. Kecerdasan yang berkaitan dengan komunikasi ini ternyata erat hubunganya dengan bagaimana tingkat kepekaan cara berpikir dan nurani. Seberapa kita menyadari sebagian dari kita belum mendengar keaneka ragaman bunyi-bunyian. Begitu kayanya dunia menghidangkan hamparan suara yang menurutku tak berbatas ini.

Pernah kita menyadari, orang yang sehari-hari berbahasa Arab kemudian mengeja bahasa Rusia untuk pertama kali, ataupun sebaliknya. Pasti menyenangkan untuk mendengarnya. Sedikit aneh dan ambigu, tetapi menarik. Bagaimanapun itu untuk bersikap serius di hadapan orang  asing sudahlah sangat susah. Bertahanlah untuk tidak menertawakan bagaimana anehnya mereka berkomunikasi dengan bahasa baru.  Maksudku bagaimana agar tidak menertawakan diri sendiri akan kebodohan yang terus berlanjut itu. Paling menyenangkan adalah saat kita menguasai beberapa gaya komunikasi dari berbagai Negara. Ini memudahkan dalam mencari koneksi dan bermanfaat lanjut dalam pemenuhan kebutuhan dalam artian yang lebih luas.

Bisakah kita menertawakan balik kepada dunia? Dunia memecahkan dirinya agar benar-benar sulit untuk dimengerti. Bisakah kode-kode itu menyatukan dunia dengan penjajahanya yang menyetujui suatu bahasa internasional? Kode-kode itu tak mungkin menjadi satu makna. Mereka sembunyi dimana saja menanti untuk segera ditemukan dan didengar keluh kesahnya. Iya bukan?

Saat aku menemukan beberapa teman, ia mengajarkan beberapa bahasa yang tak pernah kudengar sebelumnya. Mereka memulai cerita dengan perbedaan-perbedaan yang membelajarkan. Bagaimana mereka tinggal di antara langit sama namun terpaut lautan yang luas dan daratan yang lebar. Bukan suatu kebetulan kita dipertemukan kepada orang-orang baru. Tidak lain adalah agar tuhan dapat memperkenalkan keagungannya. Mulai dari yang teraneh hingga yang dianggap sangat lumrah. Lumrah dalam artian kita sering mendengarnya dan menemuinya. Sementara yang dianggap sebagai hal aneh itu yang menarik. Aneh dalam artian kita, belum tentu aneh versi mereka. Jangan terlalu bangga disebut normal atau tidak aneh. Bisa saja kamu memang aneh dalam versi orang lain dan mungkin sebaliknya. Tipis, benar-benar tipis.

Terpisahnya daratan oleh lautan memisahkan jarak pandang individu antar pulau. Keterbatasan itu memunculkan perbedaan yang lucu sedemikian rupa. Di berbagai ujung pulau entah disana jauhnya, orang tak bisa lagi membelenggu dirinya untuk tidak berkreasi dan berinovasi. Mereka membuat hal yang benar-benar baru dan segera mengusulkannya sebagai judul yang dianggap lumrah. Lalu kemudian mencipta beragam hal guna menghadapi kehidupan yang entah kapan berakhirnya. Harus tetap hidup dimanapun dan sampai kapanpun.

Di balik buku sejarah yang kemudian mengisahkan bagaimana bahasa itu dijejalkan agar lestari dimanapun ia berpijak. Bahasa itu diperkenalkan eksistensinya sebagai cara berekspresi yang baru pada saat itu. Bagaimana peperangan ataupun kudeta yang berlangsung dengan cepatnya itu menyisakan bahasa pesakitan. Bagaimana kematianpun memiliki bahasa yang bisa saja terucap namun kita terlalu dungu untuk bisa menangkap maknanya. Karenanya kita tak pernah tahu kapan kita akan meninggal kelak.

Ada yang bilang, orang bijak itu mendengar lebih banyak dan sedikit berbicara. Apakah memang benar? Mendengar. Iya mendengar begitu penting peranya. Aku harus bagaimana lagi untuk bisa selalu bersyukur diberikan tampilan fisik yang sempurna, bisa mendengar dan berbicara dengan lincahnya. Beberapa orang mungkin tidak diberi kemampuan ini. Haruskah aku baru sadar saat kemampuan  itu menghilang? Tentu tidak perlu. Sebisanya kita menyadari akan apa yang kita punyai itu.

Saat kita ingin mencari tahu dirimu sendiri. Jangan lupakan orang tua kita. Tidakkah terlintas, bahwa doa orang tua kitalah yang berperan penting dalam sempurnanya jalan kita. Saat kita menerima perlakuan baik, tetapi kita sendiri sadar tak pernah melakukan hal baik ke orang lain. Sadarlah dan renungkan, mungkin itu karena orang tua kita pernah melakukan kebaikan pada orang lain. Namun balasan manisnya sampai ke kita. Bagaimana saat kita tak pernah berdoa, namun apa yang kita ingini terwujud. Ya mungkin dan sangat mungkin itu adalah doa yang terkabul dari mulut orang tua kita.

Bahasa pertama adalah bahasa ibu, ternyata bukan tentang bahasa dimana kita tinggal. Lebih jauh lagi dari sekedar itu, bahasa kasih sayanglah yang dimaksudkan. semua hal baik dan buruk terdengar pertamakali dalam lingkungan keluarga. Sebagai ungkapan kasih, mereka melupakan semua kamus bahasa jelek dan jorok di hadapan kita. Agar kebaikan selalu menyertai kita. Segala hal bodoh yang pernah terdengar dari telinga mereka tak akan rela dibagi untuk kalian ini. Kalian hanya dibagi hal manis dan termanis diantara yang pahit dan terpahit.

Saat kita sedang jatuh cinta, dan terpikir bahwa dialah orang yang dimaksudkan oleh Tuhan untuk kita. Saat itulah ada suatu perasaan muncul yang tidak mungkin bisa terucap. Kadang bahasa-bahasa cinta itu begitu indah. Tanpa terucap pasangan kita akan mengerti apa yang sebenarnya ingin kita sampaikan pada dirinya. Pun kita jua sangat mengerti bahasa cintanya. Seperti dua hati yang memberikan intruksi untuk saling bertelepati sejenak. Jodoh itu memberikan tanda-tanda rumit yang belum bisa terbaca dan terbahasakan pada saat yang belum tepat. Saat pertemuan antara yang berjodoh tadi, tanda-tanda rumit itu mulai bisa membentuk pola yang mulai terilustrasikan oleh hati. Kemudian hati yang rapuh itu mulai menyubur dan menginginkan panen besar. Bunga-bunga cinta mulai menabur serbuk sarinya. Lalu gerakan angin yang menginginkan mereka bersama menyebarkan dan mencurahkan kebaikan sari-sarinya dalam keberkahan. Pada saatnya kebaikan cinta hanya perlu angin sepoi untuk menyebarkan bahasa cinta tanpa harus berbisik.

Adakalanya kita mengerti bahasa isyarat. Bagi sebagian kita yang tidak bisa mendengar dan tidak bisa bicara, mereka menggunakan bahasa isyarat. Bahasa yang mengandalkan indera penglihatan dan indera peraba. Isyarat-isyarat yang diperuntukan untuk menyambungkan perbedaan dalam bahasa itu sendiri. Pola dalam meraba beberapa tekstur itu kemudian bisa terbaca oleh mereka lalu dimengerti dan menjadi sebuah jendela yang terbuka lebar. Jendela tempat masuknya udara segar yang menutrisi perilaku keseharian mereka. Tangan yang kiranya berpadu padan membentuk sebuah isyarat itu digabungkan satu persatu. Dengan gigih bahasa ini membersamai dan bisa menggantikan fungsi bunyi-bunyian yang dihasilkan oleh gesekan bibir kita dengan rongga-rongga mulut kita. Bahkan kelak jika kita terlampau sakit keras. Bahasa inilah yang menjadi alternatifnya. Saat kita hanya mampu mengedipkan mata, dan menggerakkan ujung jari kita. Orang di sekitar kita sontak akan mengerti apa maksud yang tersirat saat itu juga.

Alampun membahasakan dirinya, tak jauh dari manusia dan binatang. Sekali lagi kita tak akan pernah menyadarinya. Akan tetapi cobalah memahami mengapa mereka dicipta dan tak dapat membahasakan pada kita dengan mudahnya? Karena kita benar-benar tercipta untuk berpikir agar dapat  mendengar hal-hal manis dari sang daun dan angin. Butuh kepekaan, saat daun menguning dan saat daun itu tumbuh dengan segarnya. Lalu  bagaimana angin itu hanya berlalu mengusir udara panas di siang hari untuk membuat kita tetap segar. Ataukah bagaimana angin itu menunjukan kekuatan dengan menampakkan wujudnya dalam pusaran angin topan yang merusak beberapa rumah warga.

Dari beragam bahasa yang telah kita pahami itu, hendaklah kita dapat memilahnya dan menggunakan bahasa yang terbaik menurut kita. Pergunakanlah bahasa yang positive saja. Bahasa yang dapat membangun ke arah yang lebih bermanfaat bagi orang banyak. Bahasa yang dapat membuat orang yang mendengarkan menjadi lebih bahagia dan tentram. Pergunakan bahasa untuk mensugestikan kebaikan kepada siapa saja.

Betapa malunya diri ini ketika tidak bisa menghormati keanekaragaman bahasa itu sendiri. Jadi bahasa itu tidak hanya yang terucap kemudian terdengar, akan tetapi jauh lebih luas dari pada itu. Tuhan menciptakan kita dengan diberi kemampuan mengerti beberapa bahasa. Yang terucap sungguhlah luas cakupannya, apalagi yang tidak terucap. Sungguh Tuhan begitu terpuji dan baik. Tuhan mendesain kita untuk menemukan kemudian mendengar hal termanis serta membahagiakan. Membuat kita tidak pernah bosan untuk terus mempelajari hal baru, agar menemukan banyak keindahan-keindahan dari milyaran tatapan penuh bahasa dan membuat manfaat dalam ridha Allah SWT.

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer