Berdamai dengan Kehilangan

I have a lil fish

Siapa yang tak mengetahui dengan kata kehilangan? Bahkan anak kecil saja sangat mengenal dengan kata tersebut. Hanya saja kadang kala hal itu menjadi samar. Aku pernah menjadi seorang yang bodoh, tak menyadari ada hal yang seharusnya ada. Aku pikir aku sedang memiliki, tetapi ternyata aku kehilangan. Sebaiknya aku berkata bahwa aku memiliki kehilangan. Seperti judul lagu dari grup band Letto, band yang sangat aku kagumi. Lirik lagunya menggugahku untuk mengerti tentang suatu pesan mendalam. Terutama dengan lagu ini, yang terasa memiliki makna unik dan sangat perlu untuk diperdalam maknanya. Aku mengira-ngira makna “memiliki” dan “kehilangan”.

Waktu menambahkan bumbu pedas yang membuatku tergugah. Pedihnya menyuruhku membilas mata dengan air. Air menyirnakan pedih, sebut saja bilasan air membuat mataku terasa lebih jernih. Telah lama ku diberi kehidupan. Aku hanya malas mencari makna kenapa dan bagaimananya. Aku menerima “apa”, lupa apakah yang lain juga ada yang hilang dari diri ini. Memang sesuatu yang hilang itu tak bisa dilihat oleh mata. Maka aku pikir wajar saja orang melihatnya dengan tak jelas. Semua yang hilang itu tak dianggap lagi sebagai kepemilikan. Padahal ada sesuatu yang dimiliki tanpa berwujud. Alangkah bodohnya aku melupakan semua itu, aku memiliki dan sampai suatu saat nanti tetap memiliki. Entah pada sesuatu yang berwujud dan berada tepat di dalam genggaman. Ataukah sesuatu yang jauh dan tak berwujud lagi. Bahkan sesuatu yang hilang itu dapat dihitung dan juga mempunyai pemilik.

Tak ada yang menyadarkanku untuk segera mengerti. Hanya waktu yang membagi semua ide itu. Tapi waktu memberiku pukulan yang sangat keras hingga aku menangis dan terperanjat sendiri. Aku tak membangunkan orang, aku tak menyentuh siapapun. Aku berdialog sendiri mencoba tak memakai perkataan orang lain. Seperti seorang yang bangun tidur pada umumnya, ya aku berlagak seperti itu. Seperti seorang yang pada umumnya menyambut pagi sebagai hari baru yang menyuguhkan kepemilikian-kepemilikan baru. Mereka menambah hak milik tiap hari. Aku hanya pura-pura melakukan hal yang sama, padahal aku tak merasa hari berganti. Hari senin tetaplah hari senin dia tak berganti sejak aku tak mau menggantinya. Aku pikir hari akan berganti saat aku telah tidur dimalam harinya, jika aku tak tidur berarti haripun tak berganti. Senin yang melompat ke hari rabu begitu seterusnya.

Sejak aku berdialog aku menemukan sesuatu yang dikata orang telah hilang. Kita akan tersadar kalau keniscayaan kehilangan itu benar ada adalah saat sesuatu yang hilang itu terganti dengan sesuatu yang baru. Kau akan membandingkan dan mensyukuri atas apa yang pernah ada dan dirasa ada sebelumnya. Apakah ada yang merasa seperti itu? Aku hanya mengira, karena pernah merasa. Kurasa memang benar adanya. Sejak waktu memukulku keras, aku tak bisa lagi mempercayai sesuatu yang berwujud. Aku selalu menaruh mata itu dibelakang dan mempercayai hati yang terkesan jauh tak bisa melihat.

Tabur kegembiraan hanya omong kosong. Sepi tak teringkas lagi,ia menjabarkan wujudnya. Semakin lama sepi akan menyamudera dan mencari muaranya yang masih dicari hingga kini. Kupercaya ada yang kupercaya. Aku takut aku tak bisa melihat lagi. Aku takut aku tak bisa merasa lagi. Aku menjauh untuk memborgol hati nurani. Sejauh aku melangkah akan kutemui hal sama. Hal yang memedihkan nurani. Sesuatu yang kuinginkan yang tak kembali kini. Kini benar-benar tak kembali, aku menyuruhnya kembali saat itu, tetapi ia tak mau. Ia ingin tinggal disana. Suatu kali ia bisa berbicara dan tertawa, dia mengatakan tak akan menghilang lagi. Tapi ia menghillang dan menjadi inventaris kehilanganku. Aku melihatnya pergi menghilang. Kali ini aku melihat Sesuatu yang hilang itu. Tepat di hadapanku. Tak seperti yang dulu, aku tak keliru kali ini. Aku mengingat dengan betul aku memilikinya. Aku tak membuat kesalahan tetapi aku ingin sekali lagi salah. Aku ingin ada yang membohongiku lagi. Kini aku saja yang berbohong, agar ini memang menjadi hal yang tak terjadi.

Memang benar aku pernah salah mengerti dan sering terbohongi. Kehilangan yang membuat seorang berbohong agar tak mengerti telah ada yang hilang. Keniscayaan yang mampu menenangkanku. Aku menimpali semua penglihatanku dengan harapan yang secuilpun aku tak melihatnya dengan terang. Karena aku percaya cerita suci yang berakhir dengan kesucian. Hijab-hijab itu nyatanya mengaburkan rasa memiliki kehilangan. Bagaimana seseorang yang benar-benar tak mengerti dan berakhir dengan tak mengerti juga? Tak ada pula yang ingin mengungkit kehilangan, karena sesuatu yang hilang kerap kali menyakitkan untuk dibahas. Lebih amanya pura-pura tak memilikinya. Keterikatan hak milik itu pun kadang tak ingin disembunyikan, ia ingin tampil walau ia tak tahu apakah kehadirannya itu membuat orang disekitar menangis.

Jika boleh memilih apakah akan kau pilih tidak memiliki kehilangan ataukah pura-pura tidak tahu? Bersembunyi kemanapun tetap akan terpilih umtuk memilikinya saja. Jika demikian yang namanya memiliki, maka tiap detik kita mempunyai banyak kepemilikan yang tak akan bisa dihitung. Tidak terhingganya itu membuat orang berpikir untuk berbuat apa selanjutnya jika sudah kaya seperti itu. Membaginya menjadi salah satu pilihan, jika memang berwujud gampanglah kita memberinya. Nah, jika tak memiliki wujud inilah yang samar kuantitasnya, yang berwujud saja tak terhitung, apalagi yang tak berwujud dan tak terketahui sebagai miliknya. Membagi yang tak terwujud tentu terkesan tak bisa, tapi aku mengartikannya sebagai bagian dari klausa yang harus disampaikan kepada orang lain. Sesuatu yang tak berwujud hanya mempunyai arti bila ia diucapkan dan direnungkan. Maka hikmahlah yang harus dibagi, sesuatu yang tak berwujud tapi bisa menjadi bahan mewujudkan hal berwujud. Hasil dari kesadaran berpikir tentang apa yang dimilikinya itulah hikmah.

Hikmah memang nama orang, aku juga mengerti. Kata “hikmah” yang sering diucapkan para bijaksana, akan terasa elit bila diucapkan orang besar. Akan tetapi juga berarti hidangan elit juga bagi orang lemah yang mampu memegangnya. Hanya yang mampu memegang dan membuat yang bisa membaginya dengan ikhlas.

Akan menjadi anak-anak kembali bila menangis kala ada sesuatu yang hilang dari genggaman kita. Apalah arti dari tangisan anak kecil, kadang disebutnya sebagai ketulusan. Bila yang menangis adalah orang yang berumur, tak disebutnya ketulusan. Anak kecil berdebat untuk mendapatkan kembali apa yang hilang itu. Itupun jika barang itu bisa dibeli lagi. Tentang kehilangan yang tak berwujud, seseorang tak mampu membuatnya terasa dan bahkan diwujudkan kembali. Memang yang hilang itu sudah tak memiliki wujud dari dia lahir, tapi ia merasa memilikinya. Bagaimana ia seserakah itu?

Teringat yang harusnya diingat bagi yang sudah berumur tentang arti memiliki yang sesungguhnya bukan hak milik. Seperti orang luar negeri saja yang tak boleh memiliki hak milik di Negara lain. Sama dengan hakikat memiliki yang tak seharusnya ada kata memiliki. Ya, kita hanya meminjam, bahkan dititipi hak. Semula semua orang paham akan hal ini. Tetapi lupa untuk mengingat. Hilang orientasi yang digambarkan jalannya struktur kepemilikan yang sebenarnya. Hidup hanya dikasih oleh yang mengasih. Ku kira hanya dikasih dan menjadi hak milik. Ternyata bukan. Tak apa dibilang miliksendiri, tetapi apa yang kau rasa bila hilang saja tak bisa terketemukan, tergores saja kau memitan bantuan orang lain untuk memperbaikiya. Control kepemilikan itu nyata diluar kendali yang katanya mempunyai hak milik. Sudah menjadi hal yang tak bisa dipungkiri. Ada tangan lain yang mungkin tak bertangan, telaahnya siapa saja itu belum tentu tahu tapi merasakan keberadaanya.

Hal yang tak terasa itu seakan berada tak jauh dari perasaan terhalusnya. Hal yang mempunyai dari yang mempunyai dan yang membuat barang dan membuatnya tak nyata dari barang-barang yang tak nyata ataupun itu nyata.

Lalu jika kau bilang banyaknya kepemilikan yang kau rasa, itu hanya perasaanmu saja. Sejumlah yang kau tak bisa menjumlahnya itu lantas kau apakan? Sejumlah yang bernomor dan tidak bernama itu hanya sebagian dari nikmat merasakan. Bolehlah berujar memiliki. Tapi kau hanya diam saat hilang menjadi milikmu jua. Janganlah kau menangis dalam kepura-puraan. Menangislah pada yang harus ditangisi. Hierarki yang terputus oleh titik hitam hidup perlu dibasuh lagi dengan keingintahuan yang kuat tentang apa yang sebenarnya terjadi saat ada yang muncul dan menghilang wujudnya.

Tinggalah saat menyatakan dirimu sedang sendiri, seberapa banyak kau berujar memiliki kehilangan. Saat kehilanganmu yang pertama kau pasti tak sadar begitu pula saat dirimu sendiri yang menjadi kehilangan bagi orang lain. Kaupun sama misteriusnya, tak sadar kau menjadi bagian kehilangan dirimu sendiri.

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer