Jalan Lurus

keep walking forward

Setelah menonton film romantic entah itu cerita dongeng ataupun kisah romansa dua sejoli dalam scenario film, aku semakin bertanya-tanya. Apakah semua kisah cinta berakhir bahagia? seperti yang diharapkan pula dikehidupan nyata? Semua orang berharap demikian. Tetapi naivnya kita akan terlihat saat menonton film yang ceritanya mudah ditebak dan berakhir bahagia. Seolah tidak mengerti bagaimana sulitnya menghadapi kesulitan-kesulitan tak terduga dalam menjalani kehidupan nyata. Kita selalu menuntut jalan cerita yang lebih runyam dan rumit untuk disuguhkan pada penonton.

Semua itu tidak akan pernah terlintas di pikiran kita, selain kita benar-benar yang telah menjalani rumitnya cobaan, yang nyatanya tidak jauh lebih mengerikan dari cerita fiktif tersebut. Salah satu alasanku tidak tertarik dan menghindari film bergenre fiktif adalah hal-hal seperti itu. Terlalu mengada-ngada, dan menyakitkan. Apalagi kalo kisah nya campuran antara berdasarkan kisah nyata diselipkan dengan hal yang fiktif. Ini benar-benar tidak adil. Bagaimana sesuatu yang mungkin bersejarah, seolah dirusak oleh kefiktifan polah si imaginasi. Nilai kesakralannya menguap begitu saja bukan? Mungkin aku terlalu berlebihan juga. Ini memang murni opini jahatku yang kerap terlintas begitu saja.

Kalau disuruh memilih jalan cerita cinta yang bagus itu akan seperti apa? Aku akan lebih senang menjawab dengan jujur, yaitu tentang sepasang kekasih yang tepat pada waktunya bertemu disuatu tempat, kemudian jatuh cinta dan menikah, berkeluarga dan dikarunia anak dan cucu yang baik sekaligus cerdas serta hanya berpisah saat maut memisahkan. Tidak ada konflik keluarga dan social. Kehidupan selalu harmonis dan semua merasa bahagia tanpa ada air mata yang tumpah. Ini jauh dan jauh lebih baik dari pada cerita dongeng yang pernah ada.

Dengan ditambah efek canggih perkembangan teknologi, jadilah hal baru itu benar-benar kekinian. Inilah yang jadi pembeda dari jaman sebelumnya. Tuntutan konsumen selalu terpenuhi asalkan uang menggunung. Perkembangan scenario film maupun drama dewasa ini dilatar belakangi oleh minat masyarakat itu sendiri. Bagaimana ceritanya jika intrik-intrik pembuatan film juga secara tidak sadar mempengaruhi cerita di kehidupan nyata. Hendaknya ini benar-benar sudah tercermin dengan nyata. Refleksi itu jatuh begitu saja, saat kiblat kita mulai berubah.

Dahulu kala pandangan kita berorientasi pada kebahagiaan, namun sekarang kebahagian menempati urutan kedua setelah keuangan. Hal ini sangat terkait dengan perspektif masyarakat itu sendiri, bahwa jalan keluar kebahagiaan adalah lewat uang. Entah mengapa perspektif tentang kebahagiaan ini telampau bergeser dan tidak bisa terintegrasi? Haruskah ada yang harus disalahkan terlebih dahulu baru bisa pecah masalahnya? Mengapa saya berkata demikian adalah karena, cara berpikir kita terlalu rumit.

Jika ada Sesuatu yang berjalan dengan tidak sesuai, dengan kata lain ada kesalahan. Kita malah menyalahkan orang lain. Artinya kesalahan akan menjadi 2. Misalkan yang salah adalah sebuah benda, rusak misalnya. Nah yang tadinya Cuma benda saja yang rusak, ini malah tambah satu lagi ada orang yang disalahkan/dirusakan imagenya. Misalkan yang disalahkan itu bukan hanya satu orang, nah lo. Benar-benar cara pemecahan masalah yang malah menjadi pecah berkeping-keping banyaknya. Padahal seharusnya kita hanya melihat, mengintrospeksi apa yang sebenarnya terjadi. Cukup fokus pada benda yang rusak itu jangan focus pada kesalahan yang lain dulu. Kemudian barulah menganalis jalan keluarnya. Setelah mengerti dan memahami dimana seharusnya kita menempatkan diri. Barulah kita akan beralih pada hal selanjutnya.

Maka di dalam agama pun dijelaskan. Pilihlah jalan yang lurus. Jalan yang focus pada tujuanya. Jalan yang akan membawa kita untuk sampai ke tujuannya dengan lebih cepat. Ibarat kita mau beli sepatu di mall, jalanlah ke barisan sepatu. Jika kamu benar-benar hanya ingin membeli sepatu. Kamu pasti akan focus pada di manakah letak sepatu itu berada? Bahkan kamu akan bertanya kepada orang, manakah jalan pintasnya? Jalan tercepat untuk sampai kesana. Dan akhirnya memang benar, kamu akan sampai pada hal yang kamu fokuskan itu.

Berbeda jika kamu sudah mempunyai tujuan tersebut, tetapi kamu masih merasa jalannya terlalu panjang dan kenapa tidak sampai-sampai? Maka kamu akan menemui banyak kejanggalan. Benarkah jalan yang telah ditempuh tadi adalah jalan pintasnya? Bahkan apakah benar jalan itu adalah jalan akan membawa ia ke tempatnya? Dan yang lebih penting adalah, apakah benar alamat tujuan yang telah kita agung-agungkan itu? Sampai suatu kali kamu akan menemui dirimu pada kesesuaian-kesesuaian apa yang telah kamu jalankan. Serta kesadaranmu akan berbagai macam ketidak-sesuaian pada tujuan yang telah kamu putuskan sendiri.

Kita memang tidak bisa sepenuhnya sadar sendiri, tepatkah pilihan kita itu? Akan tetapi kita butuh bertanya, mengolah rasa dan logika kita sendiri. Jika kamu pernah terbentur di salah satu anggota tubuhmu, maka dengan segera kamu akan pulih. Tubuh mempunyai daya perlindungan untuk tubuhmu. Perlindungan itu bisa dengan memproduksi zat baru dan malah mereduksi zat dalam tubuh. Kita bisa belajar dari cara pemulihan tubuh kita yang terjadi secara otomatis. Yaitu dengan menambah dan mengurangi apa yang ada pemikiran kita. Mungkin kita berlebih pada satu kecenderungan. Lalu kita terlalu melupakan apa yang seharusnya perlu ditambah. Kosong kan lah sejenak

Saat kamu dalam keadaan kosong, secara reflek kamu akan bosan dan berniat akan mengisinya kembali. Isilah dengan hal-hal yang membuatmu lebih sehat serta lebih bermanfaat. Jaga keseimbanganya. Maka sebelum kamu mengisi kekosongan itu, kamu perlu meniatkan diri agar lebih baik. Apakah kamu tahu bagaimana bentuk asli kebaikan itu? Kebaikan adalah ibu dan ayahmu. Cermin dari ketulusan memberi dan semangat membahagiakan orang sekitar. Isilah dirimu dengan tauladan-tauladan yang mulia. Maka dengan sendirinya kamu mempunyai control kesadaran itu sendiri. Karena sudah saat nya kamu menjauhi auto pilot dalam dirimu. Setelah kamu beranjak dewasa, kamu lebih tahu mana yang manis dan manakah yang pahit. Mana yang lebih bisa membuatmu tersenyum, dan manakah yang membuatmu muram tak berdaya. Kamu harus memilih bagian hidup kamu sendiri. Jadilah diri kamu yang baru, kamu yang lebih bertanggung jawab pada seluruh anggota tubuhmu. Refresh harimu menjadi lebih baru.

Beranjak lagi pada pergeseran pandangan mengenai kebahagiaan. Maka jika kita telah menemukan tujuan yang benar dan nyata pada apa yang sesungguhnya kita inginkan. Maka kamu akan focus pada apa yang kamu cari.  Kamu akan lebih bisa menggali apa itu kebahagiaan sebenarnya. Kamu akan bertanya-tanya. Benarkah kebahagian itu lebih tepat bila kita berjalan ke arah sana. Ataukah jalan sini yang lebih cepat sampainya. Ketahuilah jika ada jalan yang sulit, maka disampingnya ada jalan mudahnya.

Pada akhirnya kita akan lebih bisa menghargai cara orang lain untuk mendapatkan kebahagiaannya masing-masing. Karena jalan yang ditempuh itu berbeda-beda. Selera orang benar-benar susah ditebak dan tidak harus dengan uang. Satu hal yang sama adalah wujudnya. Senyuman, perasaan lega dan tentram. Jika kita temui itu dengan mudahnya, maka nikmat tuhan mana yang akan kamu dustakan.

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer