Genggaman Erat

Genggaman Erat

Perlahan-lahan aku mulai berjalan

Karena pelarianku telah terkejar

Aku berteduh untuk sekedar melihat hitamnya kaki

Saat nafas ini masih ter-engah

Ada tangan mencoba menggapaiku

Tangan itu menarikku

Sekejab, genggaman itu menjadi erat

Kita pun berlari lagi

Ku tatap mukanya

Siapa? Ku bertanya

Dia tersenyum datar, dan berpaling muka ke arah depan lagi

Kemudian Kita berlari lagi

Siapa! Ku bertanya dengan nada memaksa

Senyumnya makin lebar,

Tapi tak jua dia menjawab

Kesal,

Tapi, Senyumnya tak membiarkanku melepaskan tanganya

Di balik bangunan putih bersejarah itu kita berhenti

Dia melepaskan tanganku

Lalu dia berkata “sampai disini saja ya”

Kemudian dia melanjutkan perjalanannya

Tak jua aku mendapatkan namanya

Tak jua aku bertanya asalnya

Tapi aku mendapatkan kehangatan

Tapi aku mendapatkan tempat berteduh paling nyaman.

Disana,

Ku lihat orang berpapasan tak kukenal seorangpun

Ku lihat tempat berisi tapi hampa

Ku tatap langit kosong namun terasa bahagia

Ku tatap tanganku, ada kertas tertulis namanya

 

Ku baca namanya,

yang hanya satu kata

Sesaat, kernyutan dahiku melebur

berganti kernyutan di samping kedua mataku

kini akhirnya aku mengenal si penggenggam tanganku

yang berarti, aku mengingkari ketidak-tahuanku.

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer