Sampai Jadi Debu – Banda Neira (lirik)

Sampai jadi debu
Badai Tuan telah berlalu
Salahkah ku menuntut mesra?
Tiap pagi menjelang
Kau di sampingku
Ku aman ada bersama mu

Selamanya
Sampai kita tua
Sampai jadi debu
Ku di liang yang satu
Ku di sebelahmu

Badai Puan telah berlalu
Salahkah ku menuntut mesra?
Tiap taufan menyerang
Kau di sampingku
Kau aman ada bersama ku

By Banda Neira

Sampai jadi debu Adalah sebuah lagu yang diawali dengan intro music yang panjang. Bukan malah membuat seseorang tidak sabar untuk mengganti dengan lagu selanjutnya. Akan tetapi malah mengajak pendengar menikmati detik demi detik keharuan music. Ada tahap dimana kita mengira ini hanya music instrumental saja. Namun perlahan penyanyi mulai mendengungkan suaranya. Alunan piano menghantarkan pada klimaks intro dan bak perjalanan mendaki kita menemui betapa indahnya suara kedua penyanyi. Suara penyanyi perempuan menderai pelan memecah heningnya nada-nada rendah.

Lagu ini benar-benar dinyanyikan dengan tempo lambat sehingga tiap kata bisa terdengar jelas. Tanpa kita sadari lagu ini mengheningkan kebisingan ruetnya lalu lintas kota. Saat kita memejamkan mata. Kita menyadari akan kehidupan yang sebenarnya adalah kehidupan yang hening.

Inilah kehidupan yang dimulai saat kita terbangun dan saling menatap wajah pasangan kita. Seorang perempuan dan seorang lelaki yang saling melengkapi untuk menerjang bisingnya kehidupan. Saat malam tiba mereka kembali ke kehidupan asli mereka yang hangat dan hening. Bergandengan tangan menyatu setelah terpisah begitu lamanya.

Bukankah kita seharusnya menyadari akan asal muasal jodoh. Bagaimana ia sudah ditetapka oleh Tuhan. Tidak begitu saja dipertemukan. Akan tetapi kita harus berada berjauhan sebelum pertemuan itu.  Saat kita telah bertemu, kita hampir tidak mengenalinya. Akan tetapi akan muncul suatu perasaan yang berbeda saat kita menjumpainya. Boleh jadi itu adalah perasaan yang susah untuk di uraikan. Suasana nyaman namun menggelisahkan. Sebuah perasaan yang berbeda dari sekedar kata nyaman. Tak elak kita penasaran bagaimana seharusnya kita menyebutnya.

Ada keterikatan walaupun kita saling berjauhan. Mungkin hati kita terdapat sebuah ruang kosong yang kita tak pernah mengkhawatirkan kekosongan itu sebelumnya. Akan tetapi saat jodoh kita hadir, ruang itu menjadi terisi dengan sempurna. Maka saat ruang itu kosong kembali, hati akan mencari dimanakah penyempurna itu yang pernah datang mengisi. Ini juga akan lebih seperti ayunan kosong yang tidak akan pernah berayun tanpa ada yang memakainya terlebih dahulu. Saat ayunan mengayun maka itu menjadi sebuah ayunan yang sebenarnya. Kehadiran pasangan kita menjadi separuh hidup kita yang menepis segala kekosongan itu.

Saat hati itu menjadi sempurna maka semua kelengkapan perasaan itu menjadi lebih halus. Hati akan menjadi lebih kompeten manganalisis sebuah perasaan. Hadirnya kemesraan semata hanyalah hasil bersatunya kekuatan dua hati. Kemesraan yang mengiringi meredupkan semua gemerlap dunia. Karena dunia akan terasa jauh lebih redup dari pada terangnya dua hati yang saling mengasihi. Maka kata ‘selamanya’ menjadi kata yang ingin diluaskan lagi artinya sehingga menjadi kata ‘abadi’.

Sampai suatu ketika kita akan menjumpai takdir kita yang lain. Yaitu perpisahan di dunia yang sungguh tak bisa untuk ditolak. Kalau bisa dibilang, takdir tentang jodoh di dunia itu lebih banyak porsi perpisahanya. Tentang penantian yang berada di tengah-tengah kedua perpisahan yang menyejarah. “Ku berada di liang yang satu dan Kau berada di sebelahku” adalah sebuah kalimat janji oleh dua hati yang menyerahkan dirinya masing-masing untuk menjadi debu yang tidak bernama lagi. Cinta yang berucap untuk terus bersama adalah kesakralan itu sendiri.

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer